Saya jawab: Memahami Hadits Shahih Bukhari 4414 dengan Ilmu Tafsir dan Adab Ilmiah (Hadits Shahih Bukhari 4414 tidak boleh dipahami secara serampangan.)
Sebagian non-Muslim mencoba menyerang Nabi Muhammad ﷺ dengan mengutip potongan hadits tanpa memahami konteks, bahasa Arab, sebab turunnya ayat, dan ilmu tafsir. Salah satu contoh yang sering dipakai adalah hadits tentang perkataan Aisyah رضي الله عنها:
“Saya tidak melihat Rabbmu kecuali sangat cepat memenuhi keinginanmu.”
(HR. Bukhari no. 4414)
Lalu mereka menyimpulkan secara sembarangan bahwa:
- “wahyu dibuat Nabi sendiri”
- “Allah hanya mengikuti hawa nafsu Nabi”
- atau “Islam adalah agama buatan Muhammad”.
Padahal kesimpulan seperti ini muncul karena:
- Tidak memahami konteks ayat dan hadits.
- Tidak memahami gaya bahasa Arab.
- Tidak memahami ilmu tafsir dan syarah hadits.
- Membaca teks agama secara serampangan tanpa metodologi ilmiah.
- Hadits dan ayat ini berbicara tentang hukum khusus rumah tangga Nabi ﷺ
Ayat yang dimaksud adalah:
QS Al-Ahzab ayat 51
“Engkau (Muhammad) boleh menangguhkan giliran siapa yang engkau kehendaki di antara istri-istrimu dan boleh pula mendekati siapa yang engkau kehendaki…”
Ayat ini turun terkait:
- pengaturan giliran istri-istri Nabi,
- kondisi dakwah yang sangat berat,
- tugas kenabian yang tidak sama dengan laki-laki biasa.
Nabi Muhammad ﷺ:
- pemimpin negara,
- panglima perang,
- hakim,
- guru umat,
- kepala keluarga besar,
- sekaligus menerima wahyu.
Karena itu Allah memberi beberapa keringanan khusus kepada Nabi, sebagaimana juga nabi-nabi lain mendapat kekhususan tertentu.
Contohnya:
- Nabi Sulaiman diberi kerajaan luar biasa.
- Nabi Daud diberi kemampuan melembutkan besi.
- Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah.
- Nabi Isa lahir tanpa ayah.
Maka kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dalam urusan rumah tangga bukan sesuatu yang aneh dalam konsep kenabian.
- Perkataan Aisyah bukan penghinaan kepada Nabi
Ini poin yang sangat penting.
Dalam bahasa Arab, ucapan Aisyah tersebut dipahami ulama sebagai:
- ungkapan cemburu yang manusiawi,
- candaan ringan antara istri dan suami,
- bukan tuduhan bahwa Nabi membuat wahyu sendiri.
Bahkan setelah mengatakan itu:
- Aisyah tetap menjadi orang yang paling mencintai Nabi ﷺ,
- meriwayatkan ribuan hadits,
- membela kehormatan Nabi,
- menjadi ulama besar Islam.
Kalau Aisyah benar-benar yakin Nabi berdusta, maka:
- mustahil beliau menghabiskan hidup membela Islam,
- mustahil beliau menjadi periwayat utama sunnah Nabi,
- mustahil beliau tetap memuliakan Nabi sampai wafat.
- Ulama hadits dan tafsir sudah menjelaskan maknanya sejak ribuan tahun lalu
Inilah pentingnya memahami bahwa:
Tafsir ayat dan hadits ada ilmunya
Islam memiliki disiplin ilmu yang sangat ketat:
- ilmu tafsir,
- ushul tafsir,
- ilmu hadits,
- ilmu sanad,
- ilmu rijal,
- ilmu bahasa Arab,
- asbabun nuzul,
- syarah hadits,
- fiqih,
- ushul fiqih.
Karena itu tidak boleh seseorang:
- mengambil satu hadits,
- menerjemahkan seenaknya,
- lalu membuat kesimpulan sendiri.
Itu sama seperti:
- membaca buku kedokteran tanpa ilmu medis,
- lalu mengaku dokter.
- Penjelasan ulama tentang hadits ini
Imam An-Nawawi
Menjelaskan bahwa ucapan Aisyah adalah:
- bentuk ghirah (cemburu),
- bukan keraguan terhadap kenabian.
Ibnu Hajar Al-Asqalani
Dalam Fathul Bari menjelaskan:
- ucapan itu termasuk bentuk kedekatan dan kemesraan rumah tangga,
- bukan celaan terhadap wahyu.
Al-Qadhi Iyadh
Menjelaskan:
- para istri Nabi kadang berbicara spontan karena rasa cemburu manusiawi,
- dan Nabi tidak marah karena memahami fitrah tersebut.
- Justru Al-Qur’an sering menegur Nabi Muhammad ﷺ
Kalau Nabi “mengarang wahyu sendiri”, mengapa Al-Qur’an berkali-kali menegur beliau?
Contohnya:
QS Abasa 80:1–10
Allah menegur Nabi karena bermuka masam kepada sahabat buta.
QS At-Taubah 9:43
Allah menegur Nabi terkait izin kepada sebagian orang munafik.
QS Al-Anfal 8:67
Allah mengoreksi keputusan perang Badar.
QS At-Tahrim 66:1
Allah menegur Nabi karena mengharamkan sesuatu untuk menyenangkan istri.
Kalau seseorang mengarang kitab sendiri:
- biasanya ia memuji dirinya terus,
- bukan memasukkan teguran kepada dirinya sendiri.
Ini justru menjadi bukti kuat bahwa Al-Qur’an bukan karangan Nabi ﷺ.
- Nabi Muhammad ﷺ hidup sederhana, bukan mencari hawa nafsu dunia
Tuduhan bahwa Nabi hanya mengejar syahwat bertentangan dengan fakta sejarah:
- rumah beliau sangat sederhana,
- sering tidak ada makanan berhari-hari,
- tidur di atas tikar kasar,
- menolak kekayaan Quraisy,
- hidup penuh perjuangan dan ancaman pembunuhan.
Kalau tujuan beliau hawa nafsu:
- lebih mudah menerima tawaran kekuasaan Quraisy sejak awal,
- tidak perlu mengalami boikot, perang, kelaparan, dan pengusiran.
- Bahkan dalam Alkitab para nabi juga memiliki banyak istri
Orang yang menyerang Nabi Muhammad karena poligami sering lupa bahwa dalam Perjanjian Lama:
- Nabi Ibrahim memiliki Sarah dan Hajar.
- Nabi Yaqub memiliki beberapa istri.
- Nabi Daud memiliki banyak istri.
- Nabi Sulaiman bahkan memiliki ratusan istri.
Artinya:
- poligami bukan hal asing dalam tradisi kenabian Semitik.
- Kesimpulan
Saya jawab:
Hadits Shahih Bukhari 4414 tidak boleh dipahami secara serampangan.
Ucapan Aisyah رضي الله عنها:
- adalah ungkapan cemburu manusiawi,
- bukan tuduhan bahwa Nabi membuat wahyu sendiri.
Justru:
- Al-Qur’an berkali-kali mengoreksi Nabi ﷺ,
- para ulama sejak dahulu telah menjelaskan konteksnya,
- dan Islam memiliki metodologi ilmiah dalam memahami ayat dan hadits.
Karena itu:
memahami Al-Qur’an dan hadits harus dengan ilmu, adab, konteks, bahasa Arab, dan penjelasan ulama — bukan sekadar mengambil potongan teks lalu ditafsirkan sesuka hati.