Aristoteles (384–322 SM) adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat. Ia adalah murid Plato dan guru Alexander Agung. Pemikirannya mencakup banyak bidang, termasuk logika, etika, politik, metafisika, dan ilmu pengetahuan.
Beberapa konsep utama dalam filsafat Aristoteles:
1. Logika dan Silogisme – Aristoteles mengembangkan sistem logika formal pertama, yang dikenal dengan silogisme.
2. Metafisika – Ia membahas konsep substansi, bentuk dan materi, serta gagasan “aktualitas” dan “potensialitas.”
3. Etika – Dalam Nicomachean Ethics, ia memperkenalkan konsep eudaimonia (kebahagiaan atau hidup yang baik) dan virtue ethics (etika kebajikan).
4. Politik – Ia melihat manusia sebagai zoon politikon (makhluk sosial) dan membahas berbagai bentuk pemerintahan dalam Politics.
5. Teori Kausalitas – Ia mengembangkan konsep empat penyebab (material, formal, efisien, dan final) untuk menjelaskan perubahan dan keberadaan sesuatu.
Aristoteles juga menolak teori dunia ide Plato dan lebih menekankan pengalaman empiris dalam memahami realitas. Filsafatnya menjadi dasar bagi pemikiran ilmiah dan logika hingga abad pertengahan dan masih berpengaruh hingga kini.
Aristoteles dan Pythagoras memiliki hubungan tidak langsung dalam sejarah filsafat dan ilmu pengetahuan. Pythagoras (sekitar 570–495 SM) hidup jauh sebelum Aristoteles dan dikenal terutama sebagai matematikawan dan filsuf yang mendirikan aliran Pythagoreanisme. Berikut beberapa hubungan antara keduanya:
1. Konsep tentang Realitas dan Angka
• Pythagoras mengajarkan bahwa angka adalah inti dari segala sesuatu dan bahwa dunia dapat dijelaskan melalui prinsip matematika.
• Aristoteles, meskipun menghargai matematika, lebih berfokus pada konsep substansi dan penyebab dalam metafisika. Ia mengkritik gagasan Pythagoras bahwa angka adalah esensi utama realitas.
2. Pengaruh pada Plato dan Aristoteles
• Pythagoreanisme mempengaruhi Plato, terutama dalam konsep dunia ide dan harmoni kosmos.
• Aristoteles, sebagai murid Plato, banyak mengkritisi konsep ini dan mengembangkan teorinya sendiri tentang substansi dan bentuk.
3. Pandangan tentang Jiwa dan Kehidupan
• Pythagoras percaya pada reinkarnasi dan bahwa jiwa dapat berpindah dari satu makhluk ke makhluk lain.
• Aristoteles menolak konsep ini dan melihat jiwa sebagai bentuk (entelechy) yang berkaitan erat dengan tubuh.
4. Kontribusi terhadap Ilmu Pengetahuan
• Pythagoras terkenal dalam bidang matematika dan musik, terutama dengan Teorema Pythagoras dan harmoni musik berdasarkan rasio numerik.
• Aristoteles mengembangkan metode ilmiah dengan mengutamakan pengamatan dan pengalaman empiris, yang menjadi dasar ilmu pengetahuan modern.
Secara keseluruhan, Aristoteles lebih bersifat empiris dan rasional dalam pendekatannya, sementara Pythagoras lebih mistik dan numerologis. Meskipun berbeda, keduanya berkontribusi besar terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Konsep Trinitas dalam teologi Kristen ternyata berhubungan dgn filsafat Aristoteles atau Pythagoras, dan ada beberapa pengaruh filosofis yang terkait:
- Pengaruh Pythagoras: Angka dan Harmoni
• Pythagoras dan para pengikutnya sangat menghormati angka tiga (triad) sebagai simbol kesempurnaan dan harmoni dalam alam semesta.
• Dalam pemikiran Pythagorean, angka tiga melambangkan keseimbangan dan kesempurnaan (misalnya, tubuh, jiwa, dan roh).
• Beberapa teolog berpendapat bahwa pemikiran Pythagorean tentang angka mungkin telah mempengaruhi konsep Trinitas secara filosofis. - Pengaruh Aristoteles: Substansi dan Atribut
• Aristoteles mengembangkan konsep substansi (ousia) dan accident dalam metafisika.
• Dalam teologi Kristen, konsep Trinitas sering dijelaskan dengan istilah filsafat Yunani: satu substansi (ousia) dalam tiga pribadi (hypostases).
• Teologi Trinitas dalam filsafat skolastik (seperti yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas) menggunakan banyak istilah Aristotelian untuk menjelaskan bagaimana Tuhan bisa satu tetapi memiliki tiga pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). - Neoplatonisme sebagai Jembatan
• Sebelum konsep Trinitas berkembang dalam teologi Kristen, pemikiran filsafat Yunani (terutama Neoplatonisme) memainkan peran penting.
• Plotinus (204–270 M), seorang filsuf Neoplatonis yang terinspirasi oleh Plato dan Aristoteles, mengembangkan konsep “Sang Esa” (The One), Nous (Akal), dan Jiwa”, yang mirip dengan gagasan tentang Trinitas.
• Beberapa teolog awal, seperti Agustinus dari Hippo, menggunakan kerangka berpikir Neoplatonis untuk merumuskan doktrin Trinitas.
Meskipun Trinitas adalah doktrin teologis Kristen yang berkembang dari ajaran Yesus dan para Rasul, ternyata konsepnya diformulasikan berdasar bantuan filsafat Yunani, terutama Aristotelianisme dan Neoplatonisme. Pythagoras memberikan latar belakang numerologis, sementara Aristoteles memberikan kerangka metafisik yang digunakan oleh para teolog dalam menjelaskan konsep tersebut.
Dalam Islam, konsep Trinitas sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Kristen tidak diterima dan bertentangan dengan tauhid (keesaan Allah) yang merupakan inti dari akidah Islam.
- Kejadian 1:1-3 dan Konsep Trinitas
Dalam Islam, penciptaan dunia dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta tanpa perantara, dan firman-Nya adalah perintah-Nya yang langsung terjadi. Firman Allah bukanlah pribadi terpisah, tetapi merupakan kalam-Nya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.” (QS. Yasin: 82)
Adapun “Roh Allah” dalam Al-Qur’an bukanlah pribadi terpisah, melainkan merujuk pada wahyu atau malaikat Jibril (‘alaihis salam).
- Yesaya 48:16 dan Trinitas
Dalam Islam, tidak ada konsep bahwa Allah mengutus pribadi lain dari diri-Nya sendiri. Allah adalah satu dan tidak memiliki bagian dalam dzat-Nya. Jika Allah mengutus seorang utusan, maka itu adalah nabi atau rasul, bukan bagian dari Allah sendiri.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
- Ulangan 6:4-5 (Shema Yisrael) dan Keesaan Allah
Ayat ini berbunyi:
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”
Islam mengakui bahwa ajaran asli Nabi Musa (‘alaihis salam) menegaskan keesaan Allah, sebagaimana yang diajarkan dalam tauhid. Tidak ada indikasi dalam teks ini bahwa Allah memiliki tiga pribadi. Bahkan, konsep keesaan ini sejalan dengan ajaran Islam tentang Tauhid Rububiyyah (Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Penguasa).
- Penggunaan Kata “Elohim”
Kata Elohim memang bentuk jamak dalam bahasa Ibrani, tetapi dalam konteks bahasa Semitik, bentuk jamak juga bisa digunakan untuk menunjukkan keagungan atau kebesaran (plural of majesty). Dalam Islam, konsep ini mirip dengan bagaimana Allah menggunakan kata “Kami” dalam Al-Qur’an, yang bukan menunjukkan banyak pribadi, tetapi keagungan-Nya.
Sebagai contoh, dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Namun, ini tidak berarti Allah memiliki lebih dari satu pribadi.
Kesimpulan Islam terhadap Konsep Trinitas dalam Perjanjian Lama
• Dalam Islam, konsep Trinitas adalah bid’ah (penyimpangan) yang muncul setelah ajaran tauhid asli dari para nabi.
• Nabi Musa (‘alaihis salam), sebagaimana semua nabi sebelum dan sesudahnya, mengajarkan keesaan Allah yang murni.
• Yesus (‘Isa ‘alaihis salam) dalam Islam bukanlah Tuhan, melainkan seorang nabi dan utusan Allah.
• Tidak ada indikasi dalam Perjanjian Lama bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi.
Ajaran Islam menolak Trinitas dan menegaskan bahwa Allah adalah satu, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Tauhid adalah dasar Islam dan merupakan pesan utama yang dibawa oleh semua nabi sejak Adam (‘alaihis salam) hingga Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam).