
Analogi: Handphone dan Manusia
1. Handphone (Benda Mati)
Handphone diciptakan dari bahan fisik: logam, kaca, plastik. Ia tidak hidup meskipun terlihat “aktif” — sebab aktivitasnya bergantung pada energi listrik dari baterai. Jika baterainya dicabut, maka handphone mati (mesin, tapi tidak punya kesadaran atau kehendak).
2. Manusia (Makhluk Hidup)
Tubuh manusia pun tersusun dari unsur-unsur fisik: air, karbon, kalsium, zat besi, dll. Tapi manusia bukan hanya tubuh. Ia menjadi hidup setelah ditiupkan ruh oleh Allah.
Poin Ilmiah: Kehidupan ≠ Sekadar Fungsi Biologis
Ilmu biologi bisa menjelaskan fungsi organ, detak jantung, sinyal otak, dll. Tapi kesadaran, kehendak, dan jiwa tidak bisa dijelaskan hanya oleh reaksi kimia. Saat seseorang mati, semua unsur tubuhnya masih lengkap, tapi nyawanya sudah tidak ada.
Ini membuktikan bahwa ruh adalah elemen ghaib, bukan material.
🌬️ Ruh = Energi Kehidupan Ghaib dari Allah
📖 Dalil Al-Qur’an:
“Kemudian Kami bentuk dia (manusia) dan Kami tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Kami…”
(QS. As-Sajdah: 9)
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku…”
(QS. Al-Isra: 85)
🧠 Ruh bukan berasal dari bumi atau dari materi, tapi pemberian langsung dari Allah. Ruh inilah yang menjadikan manusia berkehendak, sadar, dan punya moral
Hadits
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya salah satu dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari… kemudian malaikat diutus untuk meniupkan ruh…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Ini menunjukkan bahwa nyawa manusia datang dari tiupan ruh, bukan sekadar proses biologis.
Kesimpulan:
Handphone hidup karena baterai, tapi tetap benda mati tanpa kesadaran. Manusia hidup karena ruh — sesuatu yang tidak kasat mata, tapi nyata efeknya. Ruh adalah energi kehidupan ghaib yang tidak bisa dihasilkan oleh teknologi. Saat ruh dicabut, maka berakhirlah umur manusia. Sama halnya baterai habis = HP mati.
🧠 Untuk Ateis dan Logika Modern:
Jika Anda percaya bahwa energi listrik membuat handphone bisa “berfungsi”, maka mengapa sulit menerima bahwa ada energi ruhani (ghaib) yang membuat tubuh manusia bisa hidup dan sadar?
Sains bisa menjelaskan bagaimana manusia hidup, tapi tidak bisa menjelaskan mengapa manusia bisa menyadari dirinya hidup.
Itulah ruh — kunci yang menghubungkan materi dan makna, fisik dan spiritual.