
#50 Keutamaan Sifat Sabar dalam Menghadapi Musibah dan Kesenangan
Pendahuluan
Sabar adalah salah satu akhlak agung yang menjadi kunci keselamatan seorang mukmin dalam menjalani kehidupan. Menariknya, sabar bukan hanya dibutuhkan ketika seseorang tertimpa musibah, tetapi juga ketika memperoleh nikmat, kesuksesan, kekayaan, kesehatan, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia. Sebab hakikat kehidupan seluruhnya adalah ujian dari Allah SWT.
Allah berfirman:
Dalil Al-Qur’an
Arab:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Latin:
Wa lanabluwannakum bisyai’im minal khaufi wal-jū’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn.
Terjemah:
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Referensi: [Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah: 155]
⸻
- Kenapa Keutamaan Sifat Sabar?
Sabar memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena merupakan bukti kuatnya iman seseorang kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
Dalil Al-Qur’an
Arab:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Latin:
Innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bighairi ḥisāb.
Terjemah:
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
Referensi: [Al-Qur’an, Surat Az-Zumar: 10]
Keutamaan sabar:
- Dicintai Allah.
- Mendapat pertolongan Allah.
- Mendapat pahala tanpa batas.
- Menjadi sebab masuk surga.
- Menjadi tanda kesempurnaan iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Arab:
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Latin:
Wa mā u‘ṭiya aḥadun ‘aṭā’an khairan wa awsa‘a minaṣ-ṣabr.
Terjemah:
“Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
Referensi: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
Derajat Hadis: Shahih (Muttafaq ’Alaih).
⸻
- Apa Saja Bentuk Sabar yang Utama?
Para ulama menjelaskan bahwa sabar terbagi menjadi tiga bentuk utama.
A. Sabar dalam Ketaatan
Tetap istiqamah menjalankan ibadah walaupun berat.
Contoh:
- Menjaga salat lima waktu.
- Menuntut ilmu.
- Berbakti kepada orang tua.
- Berdakwah.
B. Sabar Menjauhi Maksiat
Menahan diri dari hal yang diharamkan Allah.
Contoh:
- Menjaga pandangan.
- Menahan amarah.
- Menghindari riba.
- Menjauhi zina dan ghibah.
C. Sabar Menghadapi Takdir dan Musibah
Menerima ketentuan Allah tanpa berputus asa.
Contoh:
- Kehilangan harta.
- Sakit.
- Kematian keluarga.
- Kegagalan usaha.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar terhadap ketaatan dan meninggalkan maksiat bahkan sering kali lebih berat daripada sabar menghadapi musibah.
Referensi: Ihya Ulumuddin
⸻
- Siapa yang Dimaksud dengan Hamba yang Bersabar?
Hamba yang sabar bukanlah orang yang tidak pernah sedih atau menangis.
Hamba yang sabar adalah orang yang:
- Tetap beriman ketika diuji.
- Tidak menyalahkan Allah.
- Menjaga lisannya dari keluhan yang haram.
- Tetap menjalankan kewajiban.
- Tetap berharap kepada rahmat Allah.
Allah berfirman:
Arab:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Latin:
Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Terjemah:
“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Referensi: [Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah: 156]
⸻
- Kapan Sifat Sabar Bisa Muncul?
Sabar muncul ketika seorang hamba menyadari bahwa semua yang terjadi berasal dari Allah dan mengandung hikmah.
Saat Musibah
- Sakit.
- Kehilangan pekerjaan.
- Difitnah.
- Kematian orang tercinta.
Saat Kesenangan
- Mendapat kekayaan.
- Jabatan.
- Popularitas.
- Kesuksesan.
Banyak orang mampu sabar dalam kesulitan, tetapi gagal sabar dalam kesenangan. Padahal nikmat juga ujian.
Allah berfirman:
Arab:
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
Latin:
Wa nablūkum bisy-syarri wal-khairi fitnah.
Terjemah:
“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.”
Referensi: [Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’: 35]
⸻
- Di Mana Sifat Sabar Harus Ada?
Sabar harus hadir di seluruh aspek kehidupan:
Dalam Ibadah
Tetap taat meskipun berat.
Dalam Keluarga
Sabar menghadapi pasangan, anak, dan orang tua.
Dalam Dakwah
Tidak mudah putus asa ketika ditolak.
Dalam Pekerjaan
Tetap jujur meski banyak godaan.
Dalam Muamalah
Sabar menghadapi konflik dan perbedaan pendapat.
Dalam Kesenangan
Tidak sombong, tidak berlebihan, dan tetap bersyukur.
⸻
Bagaimana Tahapan Agar Sifat Sabar Menjadi Ladang Pahala?
Tahap 1: Meyakini Semua Ujian dari Allah
Arab:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Latin:
Innā kulla syai’in khalaqnāhu biqadar.
Terjemah:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ketentuan.”
Referensi: [Al-Qur’an, Surat Al-Qamar: 49]
⸻
Tahap 2: Menahan Reaksi Pertama
Rasulullah ﷺ bersabda:
Arab:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Latin:
Innamaṣ-ṣabru ‘indash-ṣadmatil ūlā.
Terjemah:
“Sesungguhnya kesabaran yang sesungguhnya adalah pada benturan pertama.”
Referensi: Shahih al-Bukhari
Derajat Hadis: Shahih.
⸻
Tahap 3: Memperbanyak Dzikir dan Istirja’
Mengucapkan:
Arab:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Latin:
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Terjemah:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
⸻
Tahap 4: Mengambil Hikmah di Balik Ujian
Setiap musibah menghapus dosa dan meninggikan derajat seorang mukmin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Arab:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Latin:
Mā yuṣībul-muslima min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammin wa lā ḥuznin illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāh.
Terjemah:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan dan kegundahan kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.”
Referensi: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
Derajat Hadis: Shahih.
⸻
Tahap 5: Mengubah Sabar Menjadi Syukur
Tingkat tertinggi sabar adalah ketika seseorang bukan hanya menerima ujian, tetapi mampu melihat kasih sayang Allah di balik ujian tersebut, lalu semakin dekat kepada-Nya.
Sebagaimana dijelaskan para ulama dalam pembahasan Ash-Shabr wasy-Syukr, seorang mukmin idealnya memadukan dua sayap:
- Saat diuji → bersabar.
- Saat diberi nikmat → bersyukur.
Referensi: Ihya Ulumuddin
Penutup
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan hati untuk tetap taat kepada Allah dalam segala keadaan. Musibah menguji kekuatan iman, sedangkan kesenangan menguji ketulusan syukur. Barang siapa mampu bersabar dalam keduanya, maka ia termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijanjikan pahala tanpa batas.
“Musibah mengajarkan keteguhan, sedangkan nikmat mengajarkan kerendahan hati. Keduanya adalah jalan menuju ridha Allah bagi orang-orang yang sabar.”