
Bagian 1 — Klaim Muhammad Qasim “Bertemu Allah dalam Mimpi”
- Apa yang diklaim Muhammad Qasim?
Dalam materi publik yang berasal dari pihak Muhammad Qasim, ia mengklaim bahwa sejak usia muda ia mengalami rangkaian mimpi religius. Menurut klaim tersebut, ia mengalami lebih dari 800 mimpi tentang Allah—dengan gambaran Allah berada di balik hijab/veil—dan lebih dari 500 mimpi tentang Nabi Muhammad ﷺ. Ia juga menyatakan bahwa dalam mimpi-mimpi tersebut terdapat pesan mengenai Islam, umat Islam, masa depan, dan berbagai peristiwa akhir zaman.
Pihak yang mendukungnya menegaskan bahwa ia tidak mengaku sebagai nabi, Imam Mahdi, atau pemimpin khusus, melainkan sebagai seorang Muslim biasa yang menyampaikan mimpi-mimpinya.
Di sini kita harus membedakan:
“Muhammad Qasim mengklaim mengalami mimpi tertentu”
tidak sama dengan
“Mimpi tersebut pasti benar-benar berasal dari Allah.”
Itu adalah dua kesimpulan yang berbeda.
⸻
- Apakah mungkin seseorang melihat Allah dalam mimpi?
Ini perkara yang memiliki rincian dalam pembahasan ulama.
Allah Ta‘ālā berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Laysa kamitslihi syay’un wa huwas-samī‘ul-baṣīr.
Artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Referensi: QS. Asy-Syura: 11; Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Asy-Syura ayat 11.
Maka, Allah tidak boleh dibayangkan menyerupai makhluk.
Namun, dalam pembahasan ulama Ahlus Sunnah, terdapat pembahasan tentang melihat Allah dalam mimpi, dan ini tidak boleh disamakan dengan melihat Allah secara nyata di dunia.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami pengalaman mimpi yang ia pahami sebagai melihat atau berbicara dengan Allah, tetapi apa yang muncul dalam mimpi itu bukan berarti hakikat Zat Allah dapat dibatasi oleh bentuk, rupa, arah, atau gambaran tertentu.
Dengan kata lain:
Jika seseorang bermimpi melihat sesuatu yang ia yakini sebagai “Allah”, kita tidak boleh mengatakan bahwa bentuk atau gambaran dalam mimpi itu adalah hakikat Zat Allah.
Allah tidak dibatasi oleh bentuk dan tidak menyerupai makhluk.
⸻
- Masalah paling penting: siapa yang memastikan bahwa pengalaman itu benar?
Di sinilah letak persoalan Muhammad Qasim.
Misalnya seseorang berkata:
“Saya bermimpi berbicara dengan Allah.”
Secara pribadi, kita tidak bisa masuk ke dalam mimpinya untuk memverifikasi apa yang benar-benar ia alami.
Yang dapat kita nilai adalah:
A. Apakah ia benar-benar mengalami mimpi itu?
Ini adalah persoalan batin yang sulit diverifikasi secara eksternal.
B. Apakah penafsirannya benar?
Ini sudah dapat dianalisis.
C. Apakah isi mimpi itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah?
Ini dapat diuji.
D. Apakah mimpi itu memberikan informasi gaib yang kemudian wajib dipercaya oleh umat?
Di sini harus sangat berhati-hati.
Sebab, mimpi orang biasa tidak memiliki status wahyu.
⸻
- Mimpi bukan wahyu baru
Allah Ta‘ālā berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
Mā kāna Muḥammadun abā aḥadin min rijālikum wa lākin rasūlallāhi wa khātaman-nabiyyīn.
Artinya:
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”
Referensi: QS. Al-Ahzab: 40; Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-Ahzab ayat 40.
Maka, apabila dalam mimpi seseorang terdapat kalimat seperti:
“Allah mengatakan kepadamu…”
maka kita harus memahami bahwa itu adalah pengalaman mimpi pribadi menurut pengakuan orang tersebut, bukan wahyu kenabian yang mengikat seluruh umat Islam.
⸻
- Bagaimana dengan hadis bahwa mimpi seorang mukmin bisa benar?
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ»
Ar-Ru’yā aṣ-ṣāliḥatu minallāh.
Artinya:
“Mimpi yang baik berasal dari Allah.”
Referensi: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Kitab ar-Ru’yā. Derajat: Shahih.
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
«رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ»
Ru’yā al-mu’mini juz’un min sittatin wa arba‘īna juz’an minan-nubuwwah.
Artinya:
“Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”
Referensi: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Kitab ar-Ru’yā. Derajat: Shahih, muttafaq ‘alaih.
Tetapi hadis ini tidak berarti setiap mimpi seorang mukmin pasti benar.
Dan bahkan jika sebuah mimpi benar, ia tetap bukan wahyu syariat.
⸻
- Apakah jumlah mimpi yang sangat banyak menjadi bukti kebenaran?
Menurut klaim pihak Muhammad Qasim, ia telah mengalami lebih dari 800 mimpi tentang Allah dan lebih dari 500 mimpi tentang Nabi ﷺ.
Secara logika, seseorang mungkin berpikir:
“Kalau sudah ratusan kali, pasti benar.”
Namun dalam ilmu Islam, jumlah pengalaman tidak otomatis menjadi bukti kebenaran.
Seribu kali seseorang mengalami pengalaman pribadi tetap tidak otomatis menjadikannya dalil syariat.
Yang harus diperiksa adalah:
- apa isi setiap mimpi;
- apakah dokumentasinya benar-benar dibuat sebelum peristiwa terjadi;
- apakah tafsirnya konsisten;
- apakah ada klaim spesifik yang dapat diuji;
- apakah terdapat kesalahan prediksi;
- apakah narasi berubah setelah peristiwa terjadi;
- apakah isi mimpi bertentangan dengan syariat.
Ini penting karena banyaknya mimpi bukanlah standar utama untuk menentukan kebenaran.
⸻
- Apakah mimpi-mimpi itu harus langsung ditolak?
Menurut saya, tidak perlu langsung ditolak semuanya.
Sikap ilmiah yang lebih tepat adalah:
Yang sesuai dengan syariat
Diterima sebagai nasihat umum, bukan sebagai wahyu.
Misalnya ajakan untuk:
- bertauhid;
- menjauhi syirik;
- mengikuti Sunnah;
- memperbaiki akhlak;
- menjauhi kezaliman.
Semua itu memang sudah memiliki dasar dalam Islam, terlepas dari mimpi siapa pun.
Yang belum jelas
Kita tawaqquf—tidak tergesa-gesa membenarkan atau mendustakan.
Yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Maka ditolak, walaupun diklaim berasal dari mimpi.
Inilah prinsip yang paling aman.
⸻
Kesimpulan Bagian 1
Penilaian sementara kita terhadap klaim “Muhammad Qasim bertemu Allah dalam mimpi” adalah:
- Klaim itu adalah pengalaman pribadi yang ia sampaikan.
Kita tidak memiliki akses untuk memverifikasi pengalaman batinnya secara langsung.
- Dalam pembahasan akidah, pengalaman melihat atau berbicara dalam mimpi tidak boleh dipahami sebagai melihat Zat Allah secara hakiki.
Allah tidak menyerupai makhluk.
- Mimpi bukan wahyu kenabian dan tidak dapat membuat hukum agama baru.
- Banyaknya mimpi tidak otomatis membuktikan seseorang benar.
- Isi mimpi harus diuji dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan prinsip akidah yang benar.
- Kita tidak perlu terburu-buru menuduh Muhammad Qasim berdusta, tetapi juga tidak boleh menerima semua klaimnya tanpa pemeriksaan.
Menurut saya, langkah berikutnya yang paling tepat adalah membedah klaim pertemuan Muhammad Qasim dengan Nabi Muhammad ﷺ. Di sana terdapat hadis khusus:
«مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي»
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai bentukku.”
Kita akan membahas apa makna hadis ini menurut ulama, apa syaratnya, dan apakah hadis tersebut otomatis membenarkan semua pesan yang seseorang klaim ia terima dalam mimpi dari Nabi ﷺ.