
#51 Mengapa Ada Orang yang Tidak Taat Beribadah atau Bahkan Non-Muslim Bisa Sukses? Memahami Konsep Istidraj dalam Islam
Banyak orang bertanya:
“Mengapa ada orang yang jarang salat, bahkan non-Muslim, tetapi hidupnya kaya, sukses, berpengaruh, dan tampak bahagia? Sedangkan sebagian orang yang rajin beribadah justru diuji dengan kesulitan?”
Islam telah menjelaskan fenomena ini melalui konsep istidraj, yaitu ketika Allah memberi kenikmatan dunia secara terus-menerus kepada seseorang yang jauh dari ketaatan, sementara ia semakin lalai dan tidak menyadari bahwa kenikmatan itu justru menjadi jalan menuju hukuman yang lebih berat.
⸻
- Kenapa Orang yang Tidak Taat Bisa Tetap Sukses?
Karena kesuksesan dunia bukan selalu tanda cinta Allah.
Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, baik mukmin maupun kafir.
Dalil Al-Qur’an
Arab
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً﴾
Latin
Falammā nasū mā dzukkirū bihī fataḥnā ’alaihim abwāba kulli syai’, ḥattā idzā fariḥū bimā ūtū akhadznāhum baghtah.
Terjemahan
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan untuk mereka pintu segala kenikmatan. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
Referensi: Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 44.
Tafsir: (Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS Al-An’am:44).
Artinya, terkadang keberhasilan bukan hadiah, tetapi ujian yang tidak disadari.
⸻
- Apa Itu Istidraj?
Istidraj berasal dari kata darajah (tingkatan), yaitu Allah membiarkan seseorang naik sedikit demi sedikit dalam kenikmatan dunia sambil menjauh dari-Nya.
Hadis Nabi ﷺ
Arab
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
Latin
Idzā ra’aita Allāha yu‘ṭī al-‘abda minad-dunyā ‘alā ma’āṣīhi mā yuḥibb, fa innamā huwa istidrāj.
Terjemahan
“Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berbagai kenikmatan dunia padahal ia terus bermaksiat, maka itu adalah istidraj.”
Referensi: Musnad Ahmad, diriwayatkan pula oleh Al-Mu’jam Al-Kabir.
Derajat Hadis: Dinilai hasan oleh sejumlah ulama takhrij kontemporer.
⸻
- Siapa yang Bisa Mengalami Istidraj?
Istidraj tidak hanya menimpa non-Muslim.
Yang bisa terkena istidraj antara lain:
- Orang kafir yang menolak kebenaran
Mereka diberi kelapangan dunia tetapi semakin jauh dari Allah.
- Muslim yang terus bermaksiat
Tetapi hidupnya terasa semakin mudah sehingga merasa aman dari azab Allah.
- Orang yang sombong karena nikmat
Menganggap keberhasilannya murni hasil kecerdasannya sendiri.
Contohnya adalah Qarun.
Arab
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
Latin
Qāla innamā ūtītuhu ‘alā ‘ilmin ‘indī.
Terjemahan
“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”
Referensi: QS Al-Qashash ayat 78.
⸻
- Kapan Istidraj Terjadi?
Istidraj biasanya terjadi ketika:
- Seseorang terus bermaksiat.
- Nasihat tidak lagi mempengaruhinya.
- Hatinya mulai keras.
- Dosa dianggap biasa.
- Nikmat dunia semakin bertambah.
Semakin jauh seseorang dari Allah tetapi semakin merasa aman, semakin perlu ia khawatir.
Dalil
Arab
﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
Latin
Afa aminū makrallāh, falā ya’manu makrallāhi illal-qawmul khāsirūn.
Terjemahan
“Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang rugi.”
Referensi: QS Al-A’raf ayat 99.
⸻
- Di Mana Istidraj Bisa Terjadi?
Istidraj tidak terbatas pada satu tempat.
Bisa terjadi:
- Di dunia bisnis.
- Di dunia politik.
- Di dunia hiburan.
- Di media sosial.
- Di lingkungan akademik.
- Bahkan di lingkungan keagamaan.
Seseorang bisa terkenal, dipuji, memiliki banyak pengikut, tetapi hatinya semakin jauh dari Allah.
Karena ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan popularitas.
Dalil
Arab
﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾
Latin
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
Terjemahan
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Referensi: QS Al-Hujurat ayat 13.
⸻
- Bagaimana Cara Mengenali Istidraj?
Beberapa tanda yang disebut para ulama:
- Nikmat bertambah, syukur berkurang
- Dosa bertambah, istighfar berkurang
- Harta bertambah, sedekah berkurang
- Jabatan bertambah, tawadhu’ berkurang
- Kesuksesan bertambah, ibadah berkurang
- Diperingatkan tetapi tidak tersentuh hatinya
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang terus-menerus melakukan maksiat dapat tertutup sehingga tidak lagi peka terhadap nasihat.
Referensi: Ihya’ Ulumuddin.
⸻
Bagaimana Agar Istidraj Tidak Mempengaruhi Iman dan Taqwa Kita?
Ini bagian yang paling penting.
Tahap 1: Ubah cara memandang kesuksesan
Jangan mengukur kemuliaan seseorang dari:
- kekayaan,
- jabatan,
- popularitas,
- jumlah pengikut.
Ukur dari ketakwaannya.
⸻
Tahap 2: Selalu Muhasabah
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah ibadah saya semakin baik?
- Apakah saya semakin dekat kepada Allah?
- Apakah nikmat membuat saya lebih taat atau lebih lalai?
⸻
Tahap 3: Perbanyak Syukur
Arab
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Latin
La’in syakartum la-azīdannakum.
Terjemahan
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
Referensi: QS Ibrahim ayat 7.
Syukur menjaga nikmat agar menjadi keberkahan, bukan istidraj.
⸻
Tahap 4: Jangan Iri kepada Kenikmatan Orang Lain
Karena kita tidak tahu:
- apakah itu rahmat,
- ujian,
- atau istidraj.
Yang terlihat indah di dunia belum tentu indah di akhirat.
⸻
Tahap 5: Jaga Salat dan Istighfar
Salat adalah benteng utama iman.
Istighfar adalah pembersih hati dari dosa yang dapat membuka pintu istidraj.
⸻
Tahap 6: Berdoa Meminta Husnul Khatimah
Arab
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Latin
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Terjemahan
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Referensi: Sunan At-Tirmidzi.
Derajat Hadis: Shahih.
⸻
Kesimpulan
Kesuksesan dunia bukan ukuran keridhaan Allah. Orang yang rajin ibadah bisa diuji dengan kesulitan untuk meninggikan derajatnya, sementara orang yang jauh dari Allah bisa diberi kelapangan sebagai ujian atau bahkan istidraj.
Karena itu, ketika melihat orang lain sukses meski tidak taat, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah lebih mencintainya. Yang perlu kita perhatikan adalah:
Apakah kesuksesan itu membuatnya semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari-Nya?
Dan yang lebih penting lagi:
Apakah nikmat yang Allah berikan kepada kita menjadikan kita semakin bertakwa atau justru semakin lalai?
Itulah pertanyaan yang akan menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.